Minggu, 20 Oktober 2013
KEUTAMAAN WUDU DAN PENJELASAN CARANYA
BAB KEUTAMAAN WUDU DAN PENJELASAN CARANYA
Ibn abas ra. Mengatakan: “difardukannya wudu di Makah dan turun ayatnya di madinah”.
Beliasu saw ernah bersabda: “apabila seseorang masuk kubur lalu didatangi dua malaikat, keduanya berkata: “kami akan memukulmu dengan satu pukulan, keduanya memukulkan satu pukulan, maka kuburannya dipenuhi api lalu keduanya meninggalkannya hingga ia siuman dan ketakutannya lenyap; lalu ia bertanya kepada keduanya: “lantaran apa engkau berdua memukulku?” keduanya menjawab: “karena engkau pernah sembahyang tidak dalam keadaan suci dan engkau berjumpa dengan seseorang yang dianiaya tapi engkau tak menolongnya”.
Beliau sawa pernah bersabda: “apabila hamba yang muslim atau yang mukmin berwudu lalu ia membasuh mukanya maka keluarlah setiap kesalahan yang dipandang matanya berasama air dari mukanya atau bersama tetesan air yang terakhir; apabila ia membasuh kedua tangannya maka dari tangannya keluar setiap kesalahan yang dilakukan tangannya bersama air atau bersama tetesan terakhir; apabila membasuh kedua kakinya maka keluarlah setiap kesalahan yang ditempuh kakinya bersama air atau bersama tetesan terakhir sehingga ia keluar suci dari dosa-dosa sampai-sampai aneka kesalahannya keluar dari bawah kukunya dan alis kedua matanya kemudian langkahnya menuju mesjid dan sembahyang sunatnya”.
Abu hurairah ra mengatakan: “rasulullah saw sering menceritakan hadis ini pada kami; kemudian beliau bersabda: “kalian jangan menipu!”.
Beliau saw pernah bersabda: “tak seorang muslimpun yang menyempurnakan wudu kemudian ia berdiri dalam salatnya serta mengetahui yang ia ucapkan melainkan ia kembali dalam kondisi ia seperti pada hari dilahirkan ibunya”.
Beliau saw pernah bersabda: “menyempurnakan wudu pada saat tak disukai, lebih dulu melangkahkan kaki ke mesjid, menunggu salat setelah salat, itu benar-benar membasuh dosa-dosa”.
Beliau saw pernah bersabda: “siapa yang menyempurnakan wudu pada saat cuaca sangat dingin maka baginya pahala dua pikulan dan siapa yang menyempurnakan wudu saat cuaca panas menyengat baginya pahala satu pikulan”.
Beliau saw pernah bersabda: “sesunggunya allah tak akan menerima salat yang tanpa bersuci”
Beliau saw tak berwudu melainkan apabila dengan wudunya ia salat sekalipun hanya dua rakaat dan sesekali beliau melaksanakannya mereka (para sahabat) membawakan air wudu untuk beliau berwudu lalu ia bersabda: “saya tak sembahyang sehingga aku berwudu (terlebih dahulul)”
Beliau saw pernah bersabda: “tak akan ada yang memelihara wudu melainkan seorang mukmin”.
Beliau saw pernah bersabda: “barang siapa berwudu dalam keadaan suci Allah tuliskan untuknya sepuluh kebaikan”. Suatu hari rasulullah saw memanggil bilal, lalu ia bertanya: “hai bilal dengan (amal) apa engkau mendahuluiku ke surga?” aku pagi-pagi pergi kesurga lalu kudengar bunnyi terompahmu di depanku” lalu bilal menjawab: “wahai rasulullah... sama sekali say tak adzan kecuali saya sudah sembahyang dua rakaat dan sama sekali saya tak ditimpa suatu ‘hadas’ melainkan saya berwudu pada saat itu juga”, lalu raulullah saw bersabda: “dengan inilah”.
Beliau saw pernah bersabda: “barang siapa yag meperbagus wudunya lau ia salat empat rakaat y ng di dalamnya ia tak ia lalai, maka Allah mengampuninya”. Dalam satu riwayat: “siapa yang berwudu kemudian ia salat dua rakaat yang dalam dua rakaat itu ia tak jiwanya tak berbincang dia diampuni”.
Dengan “perbincangan jiwa” dikecualikan gambaran-gambaran alam semesta yan disaksikan hati karena hal ini diluar kuasa manusia untuk melenyapkannya”. Dan itu disaksikan oleh yang terjadi pada beliau saw dalam salat kusup (gerhana matahari) yaitu sabda beliau: “saya melihat surga dan neraka” Allahlah yang lebih tahu.
Ali ra pernah berwudu untuk setiap salat fardu padahal ia tak berhadas. Apabila (waktu) salat tiba ia minta (dibawakan) air setapak tangan, lalu ia berkumur dan istinsyaq dari air itu serta memerciki wajahnya dengan sisanya, kedua tangannya, kepalanya, dan kedua kakina; kemudian ia berkata beginilah wudu yang tak berhadas”.
FASAL
Rasulullah saw pernah bersabda: “aneka amal itu dengan niat, dan bagi setiap orang itu apa yag ia niatkan”. Guru besar kita mengatakan: “tak seorangpun yang mengatakan, ‘sempurnanya amal tanpa niat selamanya’ karena niat adalah maksud dan ini tak terlepas dari pelaku kecuali ia tak berakal, tak mengetahui yang ia lakukan dan orang ini tidak dibebani. Sedangkan yang dikutip dari abu hanifah bahwa itu tak fardlu, maksudnya bahwa itu tetap dengan sunah bukan dengan kitab berdasarkan tuntutan mustalahnya maka menurutnya itu wajib bukan fardu, jadi perselisihannya bersifat kata. Adapun yang ditegaskan oleh para sahabatnya atas ungkapannya “sahnya wudu dan mandi tanpa niat seperti halnya andai ia berjunub dan ia berenang di sungai serta tak ingat junub itu pengentengan. Seolah-olah mereka berpandangan bahwa air menghidupkan anggota sekalipun tanpa niat seperti halnya bumi hidup sebab air apabila ia ada diatasnya dan menumbuhkan benih tanamannya dan sekalipun itu tak diletakan manusia, maka yang berniat tak melewatkan kecuali kesempurnaan wudu karena mukalaf tak keluar dari jaminan kecuali dengan hadir pada yang dibebankan apalagi apabila penamaannya tak terperoleh maka hukumnya hukum bangkai dan beliau saw pada mayoritas waktu-waktunya berwudu untuk setiap salat”. Dan acapkali beliau salat beberapa salat dengan satu kali wudu.
Wudu Beliau saw berdasarkan berbagai cara, tapi biasanya itu termasuk (saling melengkapi) wudunya tak melebihi pada yang lain melainkan sebagai sifat”.
Terkadang beliau saw berwudu lalu ia menumpahka dari wadah pada tangan kanannya tiga kali sebelum memasukan keduanya ke wadah kemudian berkumur dan istinsyar tiga kali dengnan satu ciduk kemudian membasuh mukanya tiga kali kemudian membbasuh tangan kanannya tiga kali, membasuh tangan kirinya tiga kali, kemudian memasukan tangannya ke wadah mengusap kepalanya satu kali baik depannya maupun belakangnya, kemudian belia membasuh kaki kanannya tiga kali dan kaki kirinya tiga kali”. Ini riwayat ali bin abi thalib ra.didalamnya ad peringkasan satu usapan untuk keala dan tak mengusa telinga.
Alqomah mengatakan: “sampai pada kami bahwa ali ra – mengenai kejadian ini – mengusap kepalanya tiga kali” kemudian ia mengatakan itu tak bertentangan karena beliau saw meletakan tangannya pada نافوخ terlebih dahulu kemudian ia memanjangkan tangannya hingga akhir kepalanya kemudian kedepan kepalanya dan ia tak menghentikan tangannya dari kepalanya dan tak mengambil air tiga kali. Maka barang siapa yang memandang pada cara ini ia mengatakan itu satu kali usapan dan yang melihat pada pergerakan tangannya ia mengataka ‘beliau mengusap tiga kali’”. Allahlah yang lebih tahu.
Allahlah yang lebih tahu. Terkadang beliau saw
Terkadang beliau saw membersihkan wadah air pada kedua tangannya lalu beliau membasuh keduanya, kemudian beliau memasukan tangan kanannya lalu ia menumpahkan dengannya pada yang satunya lagi kemudian ia membasuh kedua telapak tangannya, kemudian berkumur dan istinsar, kemudian memasukan kedua tangannya kewadah serentak lalu dengan keduanya ia mengambil segenggam air lalu beliau memercikannya pada mukanya kemudia kedua ibu jarinya menutupi bagin depan telinganya kemudian yang ketiga seperti itu, kemudian ia mengambil dengan tangannya yang sebelah kanan segenggam air lalu ia menumpahkannya pada ubun-ubunnya lalu membiarkannya mengucur pada mukanya kemudian dia membasuh tangannya hingga sikutnya kemudian mengusap kepalanya dan telinga bagian luarnnya kemudian ia memasukan kedua tangannya serempak, dan mengambil seciduk air lalu menumpahkannya pada sandalnya kemudian membasuhnya kemudian yang satu lagi seperti itu, kemudian beliau saw berdiri lalu mengambil wadah yang di dalamnya ada sisa air wudunya lalu beliau meminum darinya sambil berdiri. Dan ini riwayat ali juga.
Ibn abas ra mengarakan, “saya bertanya pada ali ra maka saya berkata, “dalam dua sandal’ dia menjawab dalam dua sandal”, saya bertanya pada ali ra maka saya berkata, “dalam dua sandal’ dia menjawab dalam dua sandal”, saya bertanya pada ali ra maka saya berkata, “dalam dua sandal’ dia menjawab dalam dua sandal”, saya bertanya pada ali ra maka saya berkata, “dalam dua sandal’ dia menjawab dalam dua sandal”.
Terkadang belliau saw menumpahkan pabila berwudu dengan tangan kanannya pada tangan kirinya tiga kali kemudian membasuhnya hingga pergelangan tangan, kemudian berkumur dan menghirup air tiga kali, kemudian membasuh mukanya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya tiga kali, kemudian tangan kirinya tiga kali, kemudianmemasukan kedua tangannya lalu mengambil air lalu dengan air itu ia mengusap kepalanya dan kedua telinganya baik bagian dalam maupun bagian luarnya satu kali, lalu memasukan jari-jemarinya kedalam lubang kedua telinganya lalu mengusap bagian luar dengan dengan ibu jari dan bagian dalamnya dengan telunjuknya, kemudian membasuh kedua kakinya dan ia bersabda, “barang siapa berwudu seperti wuduku ini kemudian ia sembahyang dua rakaat yang dalam dua rakaat itu jiwanya tak berbincang mkaka dosanya yang telah lampau diampuni. Inilah riwayat usman.
Terkadang beliau saw meminta air lalu beliau menumpahkannya kepada kedua tangannya lalu membasuh kedua tangannya tiga kali, kemudian memasukan tangannya, kemudian mengeluarkannya lalu membasuh mukanya tiga kali dengannya, kemudian memasukan tangannya kemudianmengeluarkannya lalu membasuh kedua tangannya hingga kedua sikutnya dengannya dua kali, kemudian memasukan tangannya kemudian mengelurakannya dan mengusap kepalanya dengannya maka menghadapkan keduan tangannya kedepan dan ke belakang kemudian membasuh kedua kakinya hingga mata kaki” ini riwayat abdulah bin zaid ra di dalamnya ada dalil bahwa air tidak menjadi mustkmal sebab memasukan tangan setelah membasuh mukanya”.
Suatu ketika ditanyakan pada abdulah bin zaid, “praktekanlah wudu pada kami seperti wudunya rasulullah saw, maka beliau menumpahkan pada kedua tangannya lalu iamembasuh tangannya dua kali-dua kali kemudian dia berkumur dan menghirup air tiga kali dari satu kepalan air kemudian ia membasuh wajahnya tiga kali, membasuh tangannya dua kali-dua kali, kemudian mengusap kepanya denga air selain sisa kedua tangannya dan membasuh kedua kakinya sampai ia membersihkan keduanya kemudian ia berkata seperti inilah wudunya rasulullah saw.
Pada kesempatan yang lain pernah ditanyakan: “perlihatkanlah pada kami semisal wudunya rasulullah saw maka ia membasuh mukanya tiga kali, dua tangannya dua kali, dan membasuh kedua kakinya dua kali, kemudianmengusap kepalanya dua kali, dan ia berakata seperti inilah rasulullah saw berwudu”.
Abu abdulah salim berkata: “saya bertetangga dengan aisyah lalu saya melihatnya sedang berwudu dan ia berkata padaku, ‘perhatikanlah hingga aku perlihatkan bagaimana rasulullah saw berwudu, maka ia berkumur dan beristinsyak tiga kali, dan membasuh mukanya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanannya tiga kali dan kaki kirinya tiga kali, kemudian dia meletakan tanannya di bagian depan kepalanya kemudia ia mengusap kepalanya satu kali hingga khirnya kemudian dia menyapukan kedua tangannya pada kedua telinganya kemudian kepada dua pipinya, kemudian dai membasuh kedua kakinya”, salim berkata: “saya mendatanginya sedangkan saya seorang ‘mukatab’ lalu dia duduk dihadapanku bercakap-cakap bersamaku dan aku bertanya padanya mengenai rasulullah saw, lalu suatu hari aku menemuinya dan aku berkata padanya: “doakanlah keberkahana untukku wahai umul mukminin” ia bertanya: “apa itu?” saya jawab: “semoga allah dimerdekakan allah” ia berkata: “semoga allah memberkahimu, kemudian ia ارخت hijab pada selainku dan setelah hari itu aku tak melihatnya”.
Tersisa dua cara lain yang mirip dikembalikan pada yang telah kami sebutkan barusan – insya allah – tanpa عزو pada salah seorang rawi.
Aus bin abu aus pernah mengatakan: “saya melihat rasulullah saw berwudu dan mengusap kedua kakinya dengan air dan pada kedua kakinya ada khuf.
Ulama mengatakan: “ini dipermulaan islam”.
Dan anas ra pernah mengatakan: “saya melihat rasulullah saw berwudu dan pada beliau ada imamah قطرية lalu ia memasukan tangannya dari bawah imamahnya lalu mengusap kepala bagian depannya dan ia tak melepas imamahnya”.
Ibn abas ra pernah mengatakan: “sayameliat rasulullah saw berwudu satu kali-satu kali dan melihat beliau berwudu dua kali-dua kali dan beliau bersabda: “itu cahaya diatas cahaya, dan melihat beliau berwudu tiga kali-tiga kali dan beliau bersabda: ‘seperti inilah wuduku, wudu para nabi sebelumku, dan wudu ibrahim as siapa yang melebihi atau mengurangi atas ini maka ia telah melakukan kejelekan, dzalimd dan melampaui batas”.
Tsauban ra pernah mengatakan: “rasulullah saw mengutus sariyah lalu mereka terserang dingin lalu saat mereka menghada rasul saw mereka disuruh untuk mengusap العصايب dan التساخين.
Beliau saw pernah mengusap kepalanya dengan segayung air hingga air menetes atau hampir menetes dan terkadang dia mengusap dengan air wudunya yang tersisa pada lengannya”.
Beliau saw pernah mengatakan: “apabila seorang hamba mengusap kepalanya dengan air pada saat wudu maka allah mengampuninya dengan setiap rambut satu dosa” lalu ditanyakan: “wahai rasulullah apa pandangan engkau apabila dosa-dosanya lebih sedikit dari itu?” beliau menjawab: “kalau begitu itu digantikan oleh semua kebaikan dan tak setetespun yang menetes dari kepala dan janggutmu melainkan padanya ada dosa yang terampuni”.
Beliau saw tak menggerakan rambut dari keadaannya dan dia mengusap kepala dari bagian depan ke belakangnya hingga beliau mengeluarkan kedua tangannya dari bawah kedua telinganya dan beliau mengusap المقين.
Beliau saw pernah bersabda pada yang meninggalkan anggota wudu misalnya tempat kuku: “ulangi perbaiki wudumu” lalu ia mengulangi lalu ia berwudu.
Dan beliau sering menyuruh yang meninggalkan lilin agar ia mengulangi wudu dan salat. Dan beliau bersabda: “celaka bagi الاعقاب dan tengah perut kaki dari api neraka. Dan hal itu karena para sahabat ra mereka apabila datang dan mereka melihat waktu hampir habis mereka tergesa-gesa berwudu takut waktu habis lalu mereka bergegas (ينتهون) ke mesjid sedangkan أعقاب mereka تلوح tak tersentuh oleh air lalu mereka terlihat oleh nabi lalu beliau bersabda: “wahai manusia ...! sempurnakanlah wudu celakalah bagi الاعقاب dari mereka”.
Umar ra melihat seseorang berwudu dari dipermulaan kakinya ia membiarkan lilin yang tak tersentuh air, lalu ia berkata padanya: “basuhlah yang kamu lewat dari dua kakimu”. Lalu ia beralasan sebab dingin maka ia menyuruhnya dengan خميصة yang dengannya ia يتدفأ.
Aisyah ra menyuruh perempuan membasuh pacar yang ada diatas tangannya dan melarang mereka mengusap pada pacar dengan air apabila ia berwudu dan ia berkata sungguh aku memotong tanganku dengan pisau lebih aku sukai daripada aku melakukan itu”.
Istri-istri nabi saw memakai pacar setelah sembahyang isya lalu mereka tidur, lalu apabila fajar meleka melepasnya, lalu mereka berwudu dan salat kemudian mereka memakai pacar hingga dzuhur dengan pacar yang bagus dan itu tak menghalangi mereka dari salat”.
Dalam bab mengusap khuf akan ada ungkapan jabir pada yang bertanya padanya. “apakah boleh bagiku mengusap imamah?’ ia menjawab: “tidak sehingga kamu mengusap rambutnya dengan air”.
Dan beliau saw terkadang mengusap kepalanya seluruhnya, terkadang sebagiannya dan terkadang meringkas mengusap imamah serta terkadang mengusap sebagiannya dan menyempurnakan pada imamah”.
Rasulullah saw pernah meninggalkan berkumur dan menghirup sewaktu-waktu. Sebagaimana yang disyaksikan oleh riwayat abdulah ibn zaid yang lalu ‘dan acapkalibeliau mengakhirkan keduanya pada saat setelah membasuh wajah dan tak sampai pada kita bahwa beliau merusak urutan wudu kecuali salah satu riwayat abdulah ibn zaid yang lalu dengan meninnjau pada pengakhiran mengusap kepalanya dari dua kaki saja.
Bagitu juga tak sampai pada kita bahwa beliau selalu merusak kekontinyuan wudu, tapi beliau membiarkan para sahabatnya memisahkan wudu”.
Ibn umar ra pernah berwudu di pasar kecuali kedua kakinya kemudian ia datang ke mesjid setelah wudunya kering lalu ia mengusap kedua khufnya dan ia sembahyang.
Adapun perintah beliau saw pada yang membiarkan lilin agar mengulangi wudu maka itu peringatan bagi mereka dan itu akan ada dipenghujung bab.
Maemunah mengatakan: “rasulullah saw pernah membasuh mukanya dengan tangannya yang kanan terkadang membaasuhnya dengan kedua tangannya serempak, dalam mayoritas kondisi wudunya beliau mengambil yang baru untuk kedua telingaya selai air sisa dari kepalanya”.
Beliau sering meringkas membasuh tangan dan kaki hingga sikut dan mata kaki dan terkadang melebihinya.
Terkadang beliau menumpahkan sendiri air wudu pada anggota tubuhnya dan beliau bersabda: “saya tak senang dibantu siapapun untuk bersuciku” dan terkadang ia dibantu oleh yang lain”.
Umu abas membantunya wudu sambil berdiri sedangkan beliau saw duduk.
Beliau saw sering tidak menyela-nyela janggut dan jari-jemarinya apabila masa menyela-nyela dan ترجيل belum lama.
Dan beliau saw dalam mayoritas keadaannya menggerak-gerakan cincin pada saat berwudu.
PENUTUP
Abdulah bin masud pernah mengatakan: “barang siapa lupa mengusap kepala lalu ia ingat padahal ia sedang salat lalu ia menemukan kelembababn pada janggutnya maka hendaknya ia mengambil darinya dan mengusap kepalanya ia mengambil darinya dan mengusap kepalanya dengannya karena hal itu mencukupinya apabila ia tak menemukan kelembaban hendaknya ia mengulangi wudu dan salat”.
Usman ra pernah menyuruh yang memiliki kencing selalu keluar agar ia berwudu untuk setiap salat.
Ali pernah memberi keringanan dalam membasuh yang kiri sebelum yang kanan dan ia berkata, “saya tak peduli apabila aku telah menyelesaikan wudu dengan anggota yang mana aku memulai”, seperti itulah ibn masud pernah mengatakan”.
Ali ra apabila ia memperbaharui wudu dan tiba (waktu) salat ia meminta air lalu ia mengambil satu tapak tangan lalu ia berkumur darinya, menghisap air darinya, dengan sesisnya memerciki mukanya, lengannya, kepalanya dan kedua kakinya, kemudian ia berkata: “inilah wudu yang tak berhadas” sebagaimana hal itu dikemukakan di permulaan bab, dan ia pernah mengumpulkan air dalam bejana tembaga hingga penuh dan berapung dan tak segera menumpahkannya sebelum penuh berbeda dengan orang majusi.
Muawiyah pernah mengatakan, “saya melarang berwudu menggunakan wadah dari tembaga dan apabila keluargaku tiba di عرة الهلال dan aku menghentikan salat untuk bersiwak.
Tambahwan (penjelasan) mengenai hal itu secara terpisah ada dalam uraian terhadap sunah-sunah wudu. Insya allah. Allahlah yang lebih tahu.
BAB ANEKA SUNAH WUDU
Pokok sunah yang ditekankan apa sepuluh.
1. Bersiwak
Abu hurairah ra mengatakan rasulullah saw pernah bersabda: “sekiranya aku tidak akan memperberat umat pasti aku menyuruh mereka untuk bersiwak setiap kali bersama wudu”. Dalam satu riwayat “pada setiap kali salat sebagaimana mereka berwudu”.
Dalam satu riwayat: “sekiranya aku tidak akan memperberat umatku aku wajibkan siwak dan memakai minyak wangi pada mereka setiap kali salat sebagaimana aku wajibkan wudu pada mereka”.
Aisyah ra pernah mengatakan: “nabi saw senantiasa mengingatkan siwak sehingga saya khawatir al qur’an turun mengenai hal itu, dan beliau bersabda: “Jibril senantiasa berwasiat padaku dengan siwak. Hingga aku khawatir akan gerahamku (tanggal).
Para sahabat mengikatkan siwak mereka pada pangkal perah pedang mereka saat perang berkecamuk apabila salat tiba mereka bersiwak dengannya”.
Beliau saw pernah bersabda: “sungguh aku sembahyang dua rakaat dengan siwak lebih aku sukai dari pada aku sembahyang sunat 70 rakaat tanpa siwak.
Beliau pernah bersabda: “apabila kalian sudah salat witir maka bersiwaklah sebelum tidur”.
Beliau saw bersiwak beberapa kali pada malam hari, beliau salat dua rakaat lalu bersiwak, kemudian dua rakaat kemudian bersiwak dan seperti inilah.
Zaid bin khalid ra meletakan siwak di telinganya yang kiri, maka setiap kali ia berdiri salat ia bersiwak dengannya dan mengembalikannya ketempatnya.
Dalam bab salat akan ada bahwa orang-orang saat mereka disuruh berwudu untuk setiap salat, itu memberatkan mereka maka itu diringankan bagi mereka dengan bersiwak setiap salat.
Apabila beliau saw tidur baik siang maupun malam ia menggosok mulutnya dengan siwak.
Aisya ra pernah mengatakan: “kamu meletakan untuk rasulullah air wudu dan siwaknya maka apabila beliau bangun malam untuk bertahajud ia menyendiri kemudian bersiawak kemudian berwudu”.
Apabila beliau saw masuk rumahnya beliau mulai dengan siwak dan bersabda: “sesungguhnya itu mensucikan mulut, diridlai tuhan dan menerangkan pandangan”
Dan beliau saw bersabda: “sucikanlah mulut kalian untuk al qur’an, karena malaikat meletakan mulutnya pada mulut salah seoarang kalian, maka tak sedikitpun dari al qur’an keluar dari mulut salah seorang kalian melainkan menjadi malaikat dalam mulutmu”.
Abu musa al asy’ariy pernah mengatakan: “saya datang kepada rasulullah saw sedangkan ujung siwak ada pada lidahnya yang ia gunahakan menggosok gigi dan beliau bersabda: اع اع sambil siwak ada di mulutnya seolah olah beliau muntah”. Dalam satu riwayat beliau berkata: “عاعا”.
Beliau saw pernah bersabda: “aku telah memperbanyak siwak pada kalian dan kalian telah memperbanyak padaku, dan beliau bersabda: “saya bermimpi saya bersiwak dengan satu siwak lalu aku ditanya dua orang, yang salah satunya lebih besar, lalu memakan yang kecil lalu ditanyakan padaku lalu ditanyakan: untukku yang besar lalu aku menyerahkan pada yang lebih besar dari keduanya”.
Langganan:
Postingan (Atom)